Alhamdulillah… Kalimat itu memang terpantas yang kuucapkan ketika kuterima suara dibalik telpon yang menghubungiku. Momen itu terjadi di penghujung 2004. Setelah menungga sekitar 3 bulanan, akhirnya momen itu hadir juga. Oh… alangkah indah dunia ini, merdu sekali bunyi-bunyian knalpot motor bobrok itu, celotehan resepsionis di kantorku yang lama seperti biduanita bernyanyi merdu. Semuanya aduhai. Apakah ini respeksi dari suatu bentuk syukur?

Jujur, diterima di tempat kerjaku yang sekarang merupakan pencapaian prestasi paling kusyukuri sepanjang aku menjangkau karir. Sempat juga aku merasakan nikmatnya bertualang sebagai si pemegang map hijau alias jobseeker. Langganan kompas sabtu dan minggu, tanpa sedikitpun mencerna berita yang disajikan. Yang langsung kutuju adalah kolom-kolom lowongan pekerjaan. Ya, lowongan kerja atau mereka menyebutnya loker. Edisi Sabtu dan Minggu memang terfavorit bagi para jobseeker. Di edisi itulah terpampang dengan indahnya bebagai jenis lowongan pekerjaan: akuntan, teknisi, analis ekonomi, analis kimia, analis laboratorium, staf, supervisor, manager, agen, distributor, penata rias, supir, sekretaris, camat, lurah, ketua partai, dan apapun yang kita cari pasti akan kita temukan dengan mudah. Mudah? Ah, sepertinya memanang mudah menemukan sebaris dua baris kalimat yang dapat mendinginkan otak kita yang sedang haus akan pekerjaan. Mudah memang menemukan lowongan kerja yang sesuai dengan kualifikasiku. Semudah aku mengirimkan surat lamaran. Mudah memang hanya mengirimkan lamaran. Tapi, tak semudah menunggu panggilan atas lamaran itu.

Berpuluh lamaran dan berbagai jenis posisi sudah pernah kucoba. Tapi hanya satu dari sepuluh lamaran yang nyantol memanggilku untuk tes berikutnya. Aku masih ingat benar, perusahaan pertama yang memanggilku untuk interview (lebih keren dari wawancara). Perusahaan ini adalah perusahaan distributor yang memasarkan instrumen laboratorium ke industri-industri. Dan sepertinya kualifikasiku sesuai dengan harapan mereka (mungkin mereka hanya melihat ijazah SMA dan D3 ku). (bersambung lagi)

Like this yo…!

Artikel yang (mungkin) terkait:

  • Tidak ada

2 Responses to “Alhamdulillah”

  1. Menunggu panggilan itu laksana menunggu sang pujaan jatuh ke pangkuan hahaha lebay pisan…

    Saya juga ngerasain hal yang sama ketika jadi jobseeker hehe

  2. HAduh.. jadi tersanjung ke-6 nih, kang Dhodie ampe liat tulisan pertamax saya… :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Waspadai Sindrom Senin! « Asepsaiba's Blog - [...] bisa dilakukan untuk menghentikan serangan sindrom ini? Hal pertama yang wajib dilakukan adalah bersyukur. Jangan lupa, segala pencapain yang ...
  2. Menginjak Usia Dua « Blog Asepsaiba - [...] blog ini. Betapa tidak, di bulan ini, blog saya menginjak usia yang ke-2 setelah saya menuliskan tulisan pertama saya ...
  3. Berbagi Darah « Blog Asepsaiba - [...] pendonor, berarti kami sudah menyumbang sekitar 33 Liter darah (dengan berbagai golongan darah). Alhamdulillah, semoga ini bisa dimanfaatkan oleh ...
  4. Menghadap-Nya Jangan Sekedar Saja « Blog Asepsaiba - [...] ke samping kanan tubuhnya. Sungguh, di balik ‘kekurangan’ yang ia miliki ia masih tetap bersyukur dengan cara bersungguh-sungguh dalam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*