Meskipun saya asli Indramayu, tapi saya jarang berkunjung ke kota Cirebon, apalagi bertualang mencicipi masakan khas Cirebon. Kali ini, kebetulan saya ditugaskan untuk menghadiri suatu pertemuan di Cirebon. Di kota ini pula terdapat cabang PGN. Nah, di saat-saat seperti inilah saya berkesempatan berwisata kuliner khas setempat, dan gratis pula (bagian ini yang sangat saya suka :D ).

Beberapa makanan khas Kota Udang yang saya tahu antara lain: Sega Jamblang, Tahu Gejrot, Empal Gentong, dan Sega Lengko (silahkan ditambahkan daftarnya bagi yang mengetahuinya.. :) ). Kali ini saya hanya ingin membahas tentang Empal Gentong, karena siang tadi, makanan inilah yang ditawarkan oleh tuan rumah untuk mengisi perut di kala lapar melanda di siang hari.

Dikutip dari sini, makanan ini mirip dengan gulai dan dimasak dengan cara tradisional menggunakan kayu bakar (dari pohon mangga) di dalam gentong atau periuk tanah liat. Dinamakan empal gentong karena cara memasaknya yang khas menggunakan gentong. Isinya sendiri merupakan empal yang terdiri dari potongan-potongan daging. Daging yang umum digunakan adalah usus, babat dan daging sapi.

Empal gentong berasal dari desa Battembat, kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Makanan yang berkuah kental dan bersantan ini serta dipenuhi dengan daging dan di taburi dengan irisan daun kucai ini sungguh lezat. Teman makannya adalah nasi ataupun lontong. Anda tinggal pilih mana yang lebih anda suka. Sambal empal gentong juga sangat unik berupa saripati cabai merah kering yang ditumbuk halus. Hati-hati jika menggunakannya karena rasanya cukup pedas. Jangan lupa, rasakan pula sensasi kerupuk kulit renyah yang sangat cocok sebagai pelengkap makan.

Kedai Empal Gentong yang saya kunjungi ini adalah salah satu dari sekian jumlah penjual empal gentong di Cirebon. Kedai ini termasuk generasi senior penjual empal gentong, karena sudah dirintis sejak 1948. Dulu warung ini dikenal dengan nama Warung Empal Gentong Mang Dharma. Karena sudah cukup berumur, maka diteruskan oleh putranya. Nah, mungkin sebab itu namanya berganti jadi Warung Ibu Dharma (CMIIW :) ). Terus terang saya belum pernah mencicipi warung empal gentong yang lain selain warung empal gentong Ibu Dharma ini, lokasinya di Jl. Slamet Riyadi, samping gedung Bank BTN. Rasa nikmatnya selalu membangkitkan rindu setiap saya singgah di kota ini. Per posri empal gentong sekarang dihargai Rp 13.000,-.

Jadi, inspirasi apa yang bisa dipetik? Saya tertarik dengan angka tahun 1948. Kenapa? Karena ternyata, untuk merintis sebuah usaha hingga sukses (bahkan menjadi salah satu ciri khas Cirebon), diperlukan perjuangan yang tidak mudah, serta membutuhkan kesabaran dan keuletan. Jika dihitung, berarti perjalanan Mang Dharma untuk membesarkan jualan empal gentong-nya sudah lebih dari enam dasawarsa. Semoga saya bisa meneladaninya. Tidak ada hal yang instan untuk meraih kesuksesan. Pelajaran moral dari semangkuk empal gentong… :)

Like this yo…!

Artikel yang (mungkin) terkait:

40 Responses to “Empal Gentong Pelepas Rindu”

  1. pertamax euy

  2. Rasanya enak ya kang :)

  3. empal gentong itu sejenis soto ya kang ? wahhh enak banget kelihatannya..
    belum pernah berkunjung ke cirebon :D

  4. This is my new blog… :D

  5. Untung datangnya pagi begini, karena lapar meilhat makannya, terpaksa saya sarapan dulu Kang ;)

  6. jadi laper kak,,
    belom sarapan…

  7. Jadi Lapar juga ni Kang ngelihatnya.. boleh coba g’ Kang…??

  8. di tempat saya ko beda ya kang..di pasiraya terlalu biasa
    tp yang ini lumayan istimewa
    saya seneng pedes kang :)

    nuhun pisan lah artikel nya .. jadi saya lebih tau ya banyak tentang makanan kas cirebon ini

    mungkin yang ini empalgentong.versi 1.0 terbaru wkwwk

    • Cara bikinnya saja dengan metode yang spesial kang.. Dijamin rasanya juga spesial loh..

      Semoga selanjutnya ada episode tulisan kuliner lagi kang.. :)

  9. hmmm empal gentong yummy banget dech… :-P

  10. waah ngiming2i lagi … :roll: jadi mupeng n pngin fulang ke cirebon nuuuiiii :-(

  11. pernah coba… tapi gak di cirebon tapi di purwokerto euy… enak pokoknya mah…

  12. di Jakarta ada ga ya kedai empal gentong kaya gitu?

  13. belum bis amakan kyk gt an kang..sementar ayang bisa diemut dulu, yg harus dikunyah lum bisa, masih sakit :(

  14. jadi pengen nih,
    kalo di tempat saya,yang namanya empal itu daging yang digoreng dengan beberapa bumbu tanpa kuah

  15. Saya lihatnya jadi laper, semakin dilihat semakin lapar

  16. wah enak ne kang kayaknya…
    mau donk.

  17. minggu lalu, 23/04, saya mampir di “ibu darma”, sekitar jam 14:00. sayang sekali sudah tandas. ini kunjungan kedua dalam waktu setahun terakhir. untuk menghindari kekecewaan, terpaksa kaki diarahkan ke stasiun Kejaksan, ada Putra Mang Darma, masih buka. akhirnya empal gentong pun terasa juga.
    : )

  18. bahkan perusahaan-perusahaan kelas dunia perlu beratus-ratus tahun yah..

    ah pelajaran yang kau petik dari empal gentong sangat berarti sekali, kisanak *tepok-tepok pundak asep*

  19. Empalnya empuk nggak? Yang saya ga suka dari empal itu, berminyak dan (biasanya) alot. :D

  20. seumur idup 23 thn belon pernah ngerasain empal gentong :(
    dapet referensi niy :lol:
    kapan2 ngerengek minta di beliin empal gentong ah sama suami :P

  21. Termasuk ngeblog, tidak ada cara instan untuk sukses ngeblog.

    pelajaran dari semangkuk ‘blog’… :) )

  22. duh, hebatnya Mang Darma,
    berjuang sekian lamanya ,akhirnya sukses.
    setuju Mas Asep, kesuksesan tdk hanya terjadi sekejap, perlu usaha dan kerja keras, juga ketelatenan.
    terimakasih Mas utk sharingnya.
    Selamat menikmati empal gentongnya (*jadi ngiler*) :)
    salam

  23. Kang asep, kita jadi kempong kih gara2 baca tulisan sampeyan.. :D

    Jd kangen pengen dolan karo sdulur2 ning Cerbon..

Trackbacks/Pingbacks

  1. IBSN : Konsumsi roda dua « komuter jakarta raya - [...] Selama ini rata-rata penggunaan bahan bakar roda dua milik komuter adalah lima liter perminggu. Berarti sekarang pegang ranjen tiga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*